Friday, July 17, 2009

PERJALANAN MENUJU AKHIRAT


Oleh Al Ustadz Abdullah Taslim


Prolog

Hari akhirat, hari setelah kematian yang wajib diyakini kebenarannya oleh setiap orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan kebenaran agama-Nya. Hari itulah hari pembalasan semua amal perbuatan manusia, hari perhitungan yang sempurna, hari ditampakkannya semua perbuatan yang tersembunyi sewaktu di dunia, hari yang pada waktu itu orang-orang yang melampaui batas akan berkata dengan penuh penyesalan:

{يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي}

“Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini” (QS Al Fajr:24).

Maka seharusnya setiap muslim yang mementingkan keselamatan dirinya benar-benar memberikan perhatian besar dalam mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal untuk menghadapi hari yang kekal abadi ini. Karena pada hakikatnya, hari inilah masa depan dan hari esok manusia yang sesungguhnya, yang kedatangan hari tersebut sangat cepat seiring dengan cepat berlalunya usia manusia. Allah Ta’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ}

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al Hasyr:18).

Dalam menafsirkan ayat di atas Imam Qotadah([1]) berkata: “Senantiasa tuhanmu (Allah) mendekatkan (waktu terjadinya) hari kiamat, sampai-sampai Dia menjadikannya seperti besok”([2]).

Semoga Allah Ta’ala meridhai sahabat yang mulia Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu yang mengingatkan hal ini dalam ucapannya yang terkenal: “Hisablah (introspeksilah) dirimu (saat ini) sebelum kamu dihisab (diperiksa/dihitung amal perbuatanmu pada hari kiamat), dan timbanglah dirimu (saat ini) sebelum (amal perbuatan)mu ditimbang (pada hari kiamat), karena sesungguhnya akan mudah bagimu (menghadapi) hisab besok (hari kiamat) jika kamu (selalu) mengintrospeksi dirimu saat ini, dan hiasilah dirimu (dengan amal shaleh) untuk menghadapi (hari) yang besar (ketika manusia) dihadapkan (kepada Allah Ta’ala):

{يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ}

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Allah), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi-Nya)” (QS Al Haaqqah:18)([3]).

Senada dengan ucapan di atas sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya dunia telah pergi meninggalkan (kita) sedangkan akhirat telah datang di hadapan (kita), dan masing-masing dari keduanya (dunia dan akhirat) memiliki pengagum, maka jadilah kamu orang yang mengagumi/mencintai akhirat dan janganlah kamu menjadi orang yang mengagumi dunia, karena sesungguhnya saat ini (waktunya) beramal dan tidak ada perhitungan, adapun besok (di akhirat) adalah (saat) perhitungan dan tidak ada (waktu lagi untuk) beramal”([4]).

“Jadilah kamu di dunia seperti orang asing…”

Dunia tempat persinggahan sementara dan sebagai ladang akhirat tempat kita mengumpulkan bekal untuk menempuh perjalanan menuju negeri yang kekal abadi itu. Barangsiapa yang mengumpulkan bekal yang cukup maka dengan izin Allah dia akan sampai ke tujuan dengan selamat, dan barang siapa yang bekalnya kurang maka dikhawatirkan dia tidak akan sampai ke tujuan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita sikap yang benar dalam kehidupan di dunia dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan”([5]).

Hadits ini merupakan bimbingan bagi orang yang beriman tentang bagaimana seharusnya dia menempatkan dirinya dalam kehidupan di dunia. Karena orang asing (perantau) atau orang yang sedang melakukan perjalanan adalah orang yang hanya tinggal sementara dan tidak terikat hatinya kepada tempat persinggahannya, serta terus merindukan untuk kembali ke kampung halamannya. Demikianlah keadaan seorang mukmin di dunia yang hatinya selalu terikat dan rindu untu kembali ke kampung halamannya yang sebenarnya, yaitu surga tempat tinggal pertama kedua orang tua kita, Adam alaihissalam dan istrinya Hawa, sebelum mereka berdua diturunkan ke dunia.

Dalam sebuah nasehat tertulis yang disampaikan Imam Hasan Al Bashri kepada Imam Umar bin Abdul Azizi, beliau berkata: “…Sesungguhnya dunia adalah negeri perantauan dan bukan tempat tinggal (yang sebenarnya), dan hanyalah Adam alaihissalam diturunkan ke dunia ini untuk menerima hukuman (akibat perbuatan dosanya)…”([6]).

Dalam mengungkapkan makna ini Ibnul Qayyim berkata dalam bait syairnya:

Marilah (kita menuju) surga ‘adn (tempat menetap) karena sesungguhnya itulah

Tempat tinggal kita yang pertama, yang di dalamnya terdapat kemah (yang indah)

Akan tetapi kita (sekarang dalam) tawanan musuh (setan), maka apakah kamu melihat

Kita akan (bisa) kembali ke kampung halaman kita dengan selamat?([7])

Sikap hidup ini menjadikan seorang mukmin tidak panjang angan-angan dan terlalu muluk dalam menjalani kehidupan dunia, karena “barangsiapa yang hidup di dunia seperti orang asing, maka dia tidak punya keinginan kecuali mempersiapkan bekal yang bermanfaat baginya ketika kembali ke kampung halamannya (akhirat), sehingga dia tidak berambisi dan berlomba bersama orang-orang yang mengejar dunia dalam kemewahan (dunia yang mereka cari), karena keadaanya seperti seorang perantau, sebagaimana dia tidak merasa risau dengan kemiskinan dan rendahnya kedudukannya di kalangan mereka”([8]).

Makna inilah yang diisyaratkan oleh sahabat yang meriwayatkan hadits di atas, Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma ketika beliau berkata: “Jika kamu (berada) di waktu sore maka janganlah tunggu datangnya waktu pagi, dan jika kamu (berada) di waktu pagi maka janganlah tunggu datangnya waktu sore, serta gunakanlah masa sehatmu (dengan memperbanyak amal shaleh sebelum datang) masa sakitmu, dan masa hidupmu (sebelum) kematian (menjemputmu)” ([9]).

Bahkan inilah makna zuhud di dunia yang sesungguhnya, sebagaimana ucapan Imam Ahmad bin Hambal ketika beliau ditanya: Apakah makna zuhud di dunia (yang sebenarnya)? Beliau berkata: “(Maknanya adalah) tidak panjang angan-angan, (yaitu) seorang yang ketika dia (berada) di waktu pagi dia berkata: Aku (khawatir) tidak akan (bisa mencapai) waktu sore lagi”([10]).

“Berbekallah, dan sungguh sebaik-baik bekal adalah takwa” وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوى

Sebaik-baik bekal untuk perjalanan ke akhirat adalah takwa, yang berarti “menjadikan pelindung antara diri seorang hamba dengan siksaan dan kemurkaan Allah yang dikhawatirkan akan menimpanya, yaitu (dengan) melakukan ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat kepada-Nya”([11]).

Maka sesuai dengan keadaan seorang hamba di dunia dalam melakukan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan perbuatan maksiat, begitu pula keadaannya di akhirat kelak. Semakin banyak dia berbuat baik di dunia semakin banyak pula kebaikan yang akan di raihnya di akhirat nanti, yang berarti semakin besar pula peluangnya untuk meraih keselamatan dalam perjalanannya menuju surga.

Inilah diantara makna yang diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau: “Setiap orang akan dibangkitkan (pada hari kiamat) sesuai dengan (keadaannya) sewaktu dia meninggal dunia”([12]). Artinya: dia akan mendapatkan balasan pada hari kebangkitan kelak sesuai dengan amal baik atau buruk yang dilakukannya sewaktu di dunia([13]).

Landasan utama takwa adalah dua kalimat syahadat: Laa ilaaha illallah dan Muhammadur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . Oleh karena itu, sebaik-baik bekal yang perlu dipersiapkan untuk selamat dalam perjalanan besar ini adalah memurnikan tauhid (mengesakan Allah Ta’ala dalam beribadah dan menjauhi perbuatan syirik) yang merupakan inti makna syahadat Laa ilaaha illallah dan menyempurnakan al ittibaa’ (mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjauhi perbuatan bid’ah) yang merupakan inti makna syahadat Muhammadur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka dari itu, semua peristiwa besar yang akan dialami manusia pada hari kiamat nanti, Allah akan mudahkan bagi mereka dalam menghadapinya sesuai dengan pemahaman dan pengamalan mereka terhadap dua landasan utama Islam ini sewaktu di dunia.

Fitnah (ujian keimanan) dalam kubur yang merupakan peristiwa besar pertama yang akan dialami manusia setelah kematiannya, mereka akan ditanya oleh dua malaikat: Munkar dan Nakir([14]) dengan tiga pertanyaan: Siapa Tuhanmu?, apa agamamu? dan siapa nabimu?([15]). Allah hanya menjanjikan kemudahan dan keteguhan iman ketika mengahadapi ujian besar ini bagi orang-orang yang memahami dan mengamalkan dua landasan Islam ini dengan benar, sehingga mereka akan menjawab: Tuhanku adalah Allah, agamaku adalah Islam dan Nabiku adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam([16]).

Allah Ta’ala berfirman:

{يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ}

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki” (QS. Ibrahim:27).

Makna ‘ucapan yang teguh’ dalam ayat di atas ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia Al Bara’ bin ‘Aazib radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang muslim ketika ditanya di dalam kubur (oleh Malaikat Munkar dan Nakir) maka dia akan bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah (Laa Ilaaha Illallah) dan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah (Muhammadur Rasulullah), itulah (makna) firman-Nya: {Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat}([17])”.

Termasuk peristiwa besar pada hari kiamat, mendatangi telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang penuh kemuliaan, warna airnya lebih putih daripada susu, rasanya lebih manis daripada madu, dan baunya lebih harum daripada minyak wangi misk (kesturi), barangsiapa yang meminum darinya sekali saja maka dia tidak akan kehausan selamanya([18]). Dalam hadits yang shahih([19]) juga disebutkan bahwa ada orang-orang yang dihalangi dan diusir dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini. Karena mereka sewaktu di dunia berpaling dari petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada pemahaman dan perbuatan bid’ah, sehingga di akhirat mereka dihalangi dari kemuliaan meminum air telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai balasan yang sesuai dengan perbuatan mereka.

Imam Ibnu Abdil Barr([20]) berkata: “Semua orang yang melakukan perbuatan bid’ah yang tidak diridhai Allah dalam agama ini akan diusir dari telaga Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam (pada hari kiamat nanti), dan yang paling parah di antara mereka adalah orang-orang (ahlul bid’ah) yang menyelisihi (pemahaman) jama’ah kaum muslimin, seperti orang-orang khawarij, syi’ah rafidhah dan para pengikut hawa nafsu, demikian pula orang-orang yang berbuat zhalim yang melampaui batas dalam kezhaliman dan menentang kebenaran, serta orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar secara terang-terangan, semua mereka ini dikhawatirkan termasuk orang-orang yang disebutkan dalam hadits ini (yang diusir dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam)([21]).

Demikian pula termasuk peristiwa besar pada hari kiamat, melintasi ash shiraath (jembatan) yang dibentangkan di atas permukaan neraka Jahannam, di antara surga dan neraka. Dalam hadits yang shahih([22]) disebutkan bahwa keadaan orang yang melintasi jembatan tersebut bermacam-macam sesuai dengan amal perbuatan mereka sewaktu di dunia. “Ada yang melintasinya secepat kerdipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat kuda pacuan yang kencang, ada yang secepat menunggang onta, ada yang berlari, ada yang berjalan, ada yang merangkak, dan ada yang disambar dengan pengait besi kemudian dilemparkan ke dalam neraka Jahannam”([23]) – na’uudzu billahi min daalik – .

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin ketika menjelaskan sebab perbedaan keadaan orang-orang yang melintasi jembatan tersebut, beliau berkata: “Ini semua (tentu saja) bukan dengan pilihan masing-masing orang, karena kalau dengan pilihan (sendiri) tentu semua orang ingin melintasinya dengan cepat, akan tetapi (keadaan manusia sewaktu) melintasi (jembatan tersebut) adalah sesuai dengan cepat (atau lambatnya mereka) dalam menerima (dan mengamalkan) syariat Islam di dunia ini; barangsiapa yang bersegera dalam menerima (petunjuk dan sunnah) yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka diapun akan cepat melintasi jembatan tersebut, dan (sebaliknya) barangsiapa yang lambat dalam hal ini, maka diapun akan lambat melintasinya; sebagai balasan yang setimpal, dan balasan (perbuatan manusia) adalah sesuai dengan jenis perbuatannya”([24]).

“Balasan akhir yang baik (surga) bagi orang-orang yang bertakwa” وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Akhirnya, perjalanan manusia akan sampai pada tahapan akhir; surga yang penuh kenikmatan, atau neraka yang penuh dengan siksaan yang pedih. Di sinilah Allah Ta’ala akan memberikan balasan yang sempurna bagi manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka di dunia. Allah Ta’ala berfirman:

{فَأَمَّا مَنْ طَغَى وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى، وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى}

“Adapun orang-orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (QS An Naazi’aat:37-41).

Maka balasan akhir yang baik hanyalah Allah peruntukkan bagi orang-orang yang bertakwa dan membekali dirinya dengan ketaatan kepada-Nya, serta menjauhi perbuatan yang menyimpang dari agama-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

{تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوّاً فِي الْأَرْضِ وَلا فَسَاداً وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ}

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, dan kesudahan (yang baik) itu (surga) adalah bagi orang-orang yang bertakwa” (QS Al Qashash:83).

Syaikh Abdurrahman As Sa’di berkata: “…Jika mereka (orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini) tidak mempunyai keinginan untuk menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, maka konsekwensinya (berarti) keinginan mereka (hanya) tertuju kepada Allah, tujuan mereka (hanya mempersiapkan bekal untuk) negeri akhirat, dan keadan mereka (sewaktu di dunia): selalu merendahkan diri kepada hamba-hamba Allah, serta selalu berpegang kepada kebenaran dan mengerjakan amal shaleh, mereka itulah orang-orang bertakwa yang akan mendapatkan balasan akhir yang baik (surga dari Allah Ta’ala)”([25]).

Penutup

Setelah kita merenungi tahapan-tahapan perjalanan besar ini, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: sudahkah kita mempersiapkan bekal yang cukup supaya selamat dalam perjalanan tersebut? Kalau jawabannya: belum, maka jangan putus asa, masih ada waktu untuk berbenah diri dan memperbaiki segala kekurangan kita – dengan izin Allah Ta’ala – . Caranya, bersegeralah untuk kembali dan bertobat kepada Allah, serta memperbanyak amal shaleh pada sisa umur kita yang masih ada. Dan semua itu akan mudah bagi orang yang Allah berikan taufik dan kemudahan baginya.

Imam Fudhail bin ‘Iyaadh([26]) pernah menasehati seseorang lelaki, beliau berkata: “Berapa tahun usiamu (sekarang)”? Lelaki itu menjawab: Enam puluh tahun. Fudhail berkata: “(Berarti) sejak enam puluh tahun (yang lalu) kamu menempuh perjalanan menuju Allah dan (mungkin saja) kamu hampir sampai”. Lelaki itu menjawab: Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Maka Fudhail berkata: “Apakah kamu paham arti ucapanmu? Kamu berkata: Aku (hamba) milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, barangsiapa yang menyadari bahwa dia adalah hamba milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya pada hari kiamat nanti), dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya) maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya selama di dunia), dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya) maka hendaknya dia mempersiapkan jawabannya”. Maka lelaki itu bertanya: (Kalau demikian) bagaimana caranya (untuk menyelamatkan diri ketika itu)? Fudhail menjawab: “(Caranya) mudah”. Leleki itu bertanya lagi: Apa itu? Fudhail berkata: “Engkau memperbaiki (diri) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (perbuatan dosamu) di masa lalu, karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan di siksa (pada hari kiamat) karena (perbuatan dosamu) di masa lalu dan pada sisa umurmu”([27]).

Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan doa dari Rasulullah r([28]) untuk kebaikan agama, dunia dan akhirat kita:

Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan penentu (kebaikan) semua urusanku, dan perbaikilah (urusan) duniaku yang merupakan tempat hidupku,

serta perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku (selamanya), jadikanlah (masa) hidupku sebagai penambah kebaikan bagiku,

dan (jadikanlah) kematianku sebagai penghalang bagiku dari semua keburukan.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, 20 Shafar 1430 H

Monday, April 13, 2009

OPICK-BILA WAKTU TERAKHIR

Bagaimana kau merasa bangga
akan dunia yang sementara
bagai manakah bila semua
hilang dan pergi meningggalkan dirimu bagaimanakah bila saat nya
waktu terhenti tak kau sadari
masikah ada jalan bagi mu
untuk kembali
mengulang ke masa lalu
dunia….dipenuhi dengan hiasan
semua..dan sgala yang ada
akan kembali pada nya...
bila waktu tlah memanggil
teman sejati hanyalah amal
bila waktu tlah terhenti
teman sejati tinggallah sepi…

Nyanyian: OPICK

TIKA SAAT TERAKHIR


Kata Ibnu Mas'ud: "Tatkala Rasullulah s.a.w., telah mendekati ajalnya beliau mengumpulkan kami sekelian di kediaman ibu Siti Aisyah. Kemudian beliau memperhatikan kami sekelian sehingga berderailah air matanya dan

Beliau bersabda:

"Selamat datang untuk kamu sekalian, dan mudah-mudahan kamu sekalian di balas-kasihani Allah.Saya berwasiat supaya kamu sekalian bertaqwa kepada Allah serta mentaati-Nya. Sesungguhnya telah dekat perpisahan di antara kita, dan telah pula saat kembali pulang kepada Allah Taala dan menempati syurga-Nya.. Kalau telah datang saat ajalku, hendaklah Ali yang memandikan ku, Fadhal bin Abbas yang menuangkan air dan Usamah bin Zaid yang bertindak menolong keduanya. Lalu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri bila itu kamu semua kehendaki atau dengan kain Yaman yang putih.Bila kamu sekalian akan memandikan aku, maka letakkanlah aku di atas balai tempat tidur ku di rumah ku ini.dekat dengan liang lahad ku. Sesudah itu keluarlah kamu sekalian barang sejenak meninggalkan aku. Pertama-tama yang menyalatkan aku adalah Allah 'Azza Wa Jalla. Kemudian Malaikat Jibril, kemudian Malaikat Israil, lalu Malaikat Mikail, kemudian Malaikat pencabut nyawa (Malaikat Izrail) beserta para pembantunya, selanjutnya semua Malaikat. Setelah itu masuklah kamu sekalian dengan berkelompok-kelompok dan lakukan sholat untuk ku"

Setelah mendengar ucapan perpisahan Nabi saw mereka (para Sahabat) saling menjerit dan menangis seraya berkata

" Wahai Rasullullah engkau adalah seorang utusan untuk kami sekalian, menjadi kekuatan dalam pertemuan kami dan selaku penguasa yang mengurus perkara kami, bilamana engkau telah pergi, kepada siapakah kami kembali dalam segala persoalan?"

Rasullullah saw bersabda

"Telah ku tinggalkan padamu sekalian pada jalan yang benar dan di atas jalan yang terang dan telah ku tinggalkan pula untuk kamu sekalian dua penasihat yang satu pandai berbicara dan yang satu diam saja. Yang pandai bicara adalah Al-Quran dan yang diam saja adalah Ajal. Apabila ada persoalan yang sulit bagimu, maka kembalilah kamu sekalian kepada Al-Quran dan Sunnahku dan kalau hatimu keras membatu, maka lunaklah dia dengan mengingat tentang mati.."

.Setelah itu, maka Rasullullah saw, menderita sakit, mulai akhir bulan Safar selama 18 hari dan sudah sering di tengok oleh para sahabat. Sedang penyakit yang di derita mulai pertama kali sampai akhir hayatnya adalah pusing kepala.

Rasullullah saw mulai di utus pada hari Isnin dan wafatnya pun pada hari Isnin juga. Tatkala pada Isnin, penyakitnya bertambah berat, maka setelah Bilal selesai Azan Subuh , dia menghampiri pintu rumah Rasullullah saw sambil mengucapkan salam:

" Assalamu ' alaika ya Rasullullah!"

Siti Fatimah menjawab: lalu berkata:

"Rasullullah masih sibuk dengan dirinya sendiri,"

Bilal terus masuk ke masjid dan dia tidak memahami makna kata-kata Fatimah. Ketika waktu subuh semakin terang.Bilal datang kembali menghampiri pintu rumah Rasullullah saw dan mengucapkan salam seperti semula dan Rasullulah saw yang mendengar suara Bilal itu, maka beliau bersabda:

"Masuklah Hai Bilal, sungguh aku dalam keadaan sibuk mengurus diriku sendiri dan penyakitku rasa-rasanya bertambah-tanbah berat. Maka suruhlah Abu Bakar agar shalat berjemaah dengan orang-orang yang hadir."

Bilal pun keluar sambil menangis dan meletakkan tangannya di atas kepalanya seraya mengeluh:

" Aduhai musibah, susah sungguh, harapan terputus, telah terpenggal hilang sasaran tujuan, seandainya ibuku tidak melahirkan aku"

Bilal terus masuk masjid seraya berkata:

"Hai sahabat Abu Bakar, sesungguhnya Rasullullah menyuruh engkau shalat berjemaah dengan yang hadir, kerana beliau sibuk dalam mengurus dirinya yang sedang sakit"

Tatkala Abu Bakar melihat mihrab imam kosong serta Nabi saw tidak hadir, maka tidak tertahan dirinya lalu menjerit dan jatuh tersungkur akibat pingsan, maka ributlah kaum Muslimin yang ada , sehingga Rasullullah saw yang mendengar keributan mereka dan bersabda:

"Ya Fatimah. Ada apakah jeritan itu dan ada apakah di sana rebut?"

Fatimah menjawab:

"Keributan di sana itu adalah di antara kaum Muslimin sendiri, kerana engkau tidak ada"

Maka Rasullullah memanggil Ali dan Fadhal bin Abbas yang kemudian beliau bersandar dengan keduanya serta ke Masjid lalu shalat bersama-sama dengan dua raka'at Fajar di hari Isnin tersebut. Selesai sholat beliau berpaling ke belakang kepada orang banyak dan berkata:

"Hai Muslimin, kalian semua di dalam pemeliharan dan pertolongan Allah. Oleh sebab itu taqwalah kepada Allah serta taatilah Dia, sesungguhnya saya akan meninggal dunia ini dan hari ini hari pertama ku di akhirat dan hari terakhirku di dunia"

Lalu beliau bangkit serta pulang ke rumah.

Kemudian Allah Ta'ala memberi perintah kepada Malaikat pencabut nyawa:

"Turunlah engkau menemui kekasih-Ku dengan sebaik-baik rupa serta lakukanlah dengan halus di dalam mencabut rohnya, kalau dia mengizinkan maka masuklah, dan kalau dia tidak mengizinkan maka janganlah masuk dan pulang lah"

Maka Malaikat maut pun turun dengan rupa seperti orang Arab Badwi pergunungan seraya mengucapkan:

" Mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu sekalian, wahai penghuni rumah kenabian dan sumber risalah, apakah saya boleh masuk?"

Siti Fatimah menjawabnya:

" Hai hamba Allah sesungguhnya Rasullullah sedang sibuk dengan penderitaan sakitnya."

Dan Malaikat maut memanggil untuk kedua kali dengan ucapan:

" Mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu wahai Rasullullah dan untuk semua penghuni rumah Kenabian"

Maka Rasullullah mendengar suara Malaikat maut tersebut lalu bersabda: "Masuklah wahai Malaikat maut" Maka Malaikat mautpun masuk sambil mengucapkan "Assalammu'alaika yaa Rasullullah" Rasullullah saw menjawab Wa'alaikas salamu, Hai Malaikat maut, engkau datang untuk berkunjung atau mencabut nyawa?"

Kata Malaikat maut:

"Saya datang untuk berkunjung dan untuk mencabut nyawa, seandainya engkau mengizinkan, kalau tidak maka saya akan kembali pulang."

Bersabda Rasullullah:

"Hai Malaikat maut, di mana Jibril engkau tinggalkan?"

Malaikat maut berkata

" Dia saya tinggalkan di langit dunia, dan para Malaikat sedang berbala sungkawa kepadanya."

Tidak lama kemudian Malaikat Jibril as turun dan duduk di sisi kepala Rasullullah saw. Kata Rasullullah:

"Tahukah engkau kalau ajalku telah dekat?"

Jawab Malaikat Jibril: " Benar, Rasullullah."

Kata Rasullullah saw "Beritakan kepadaku kemulian yang mengembirakan aku di sisi Allah."

Kata Jibrial: "Sesungguhnya pintu-pintu telah dibuka dan para Malaikat telah berbaris rapi menanti rohmu di langit, pintu-pintu sorga dibuka dan para bidadari sudah bersolek semuanya, menanti kehadiran rohmu."

Kata Nabi saw : " Segala puji-pujian bagi Allah"dan bertanya pula "Hai Jibril, berilah berita gembira tentang umatku di hari kiamat"

Kata Jibril " Saya beritahukan, bahwa sesungguhnya Allah Ta'ala telah berfirman: "Sesungguhnya telah Aku larang semua Nabi masuk ke dalam sorga sebelum engkau masuk lebih dahulu dan Aku larang memasukinya semua umat sebelum umatmu masuk terlebih dahulu."

Kata Nabi saw " Sekarang puas telah hatiku dan hilanglah sudah susahku."

Kemudian beliau berkata pula: " Hai Malaikat maut, dekatlah kepada ku"

Malaikat mautpun mendekat dan mulai melaksanakan pencabutan roh beliau dan tatkala sampai di pusat(perut).Nabi bersabda: "Hai Jibril, alangkah ,'pahitnya', rasa sakaratul maut itu!"

Maka Jibril memalingkan wajahnya dari pandangan Nabi SAW.Kata Nabi saw "Hai Jibril, apakah engkau tidak suka melihat wajah ku?"

Jibril berkata: "Wahai kekasih Allah, siapakah orangnya yang sampai hati melihat wajah engkau, sedangkan engkau dalam sakaratul maut!"

Anas bin Malik r.a berkata "Tatkala roh Nabi SAW sampai di dada beliau berseru" Aku berwasiat agar kamu sekalian memelihara shalat dan apa-apa yang menjadi tanggunganmu(hamba-hamba sahayamu). Maka masih saja beliau berwasiat dengan kedua hal itu sampai hilang perkataannya"

Ali r.a berkata " Sesungguhnya Rasullullah saw, ketika menjelang ajalnya, telah mengerak-gerakkan kedua bibirnya dua kali, dan tatkala saya mendekatkan telinga, saya mendengar beliau mengucapkan dengan perlahan-lahan:" Umatku, Umatku". Maka Roh Rasullullah saw dicabut tepat pada hari Isnin Bulan Rabi'ul Awwal.

Monday, April 6, 2009

BEKALAN KEMATIAN

ASSALAMUALAIKUM & SALAM perjuangan kepada sahabat-sahabat yang setia melayari blog saya yang serba kekurangan ini. tapi bagi saya inilah ruang yang paling sesuai untuk sama-sama berkongsi sedikit sebanyak ilmu yang saya cedok daripada majlis-majlis ilmu dan pengalaman sepanjang saya menjalani kehidupan ini. saya ada mengikuti satu kuliah di mana dalam kuliah tersebut menyebut tentang satu tajuk penting yang perlu kita sebagai umat Islam mengambil perhatian. tajuk tersebut tidak lain tidak bukan adalah berkenaan bekalan kita tika berada di alam kubur, sabda Nabi saw "tiga perkara yang akan dapat membantu kita ketika menghadapi alam barzakh ialah sedekah amal jariah, ilmu yang memberi munafaat dan doa anak yang soleh". Pernahkah kita terfikir sejauh mana amalan kita yang sudah kita persipkan sebelum kita dipanggil untuk bertemu denganNya. Malaikat Izrail tidak akan menunggu sehingga kita bersedia menyelesaikan tanggungjawab kita dan selesai bertaubat untuk mencabut nyawa kita tetapi dia akan terus mencabut nyawa kita setelah daun kehidupan kita di langit gugur yang menandakan bahawa ajal kita sudah tiba. Renungkanlah firman Allah swt yang bermaksud "Hingga apabila datang kematian kepada sesoorang di antara mereka, dia berkata : Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (barzakh) sampai mereka dibangkitkan."(QS. Al Mukminun (23): 99 - 100). Jadi marilah bersama-sama kita bermuhasabah kembali sejauh mana kita sudah bersedia untuk menghadapi kematian dengan bekalan yang cukup agar dapat tidur dengan selesa di alam barzakh sana.

Friday, March 27, 2009


KEMBALI '08
Ya Allah Maha Pemurah
terangilah ku dengan nur iman-Mu
hanya Engkau tempat aku berserah
mohon makfirah di dalam syahdu

Ya Allah yang Maha Pengasih
ampunilah segala dosaku
laksana buih di laut memutih
hanyut ditelan gelombang nafsu

hari-hari yang telah aku lalui
ingin ku tinggalkan terus bersemadi

ingin aku kembali
kepada fitrah insani
tak sanggupku jelajahi rimba duniawi
bebaskanlah diriku
dari dibelenggu
dosa noda nafsu durjana

terimalah taubatku ya Allah
pimpinlah daku ke jalan redha-Mu
moga sinar-Mu terangi hidupku
di dalam kegelapan
aku kan kembali pada-Mu robbi
menghadapmu ya robbul izzati
segala ketentuan ku pasrahkan
di hujung penghayatan

DOA MOHON KESUCIAN DIRI & KEKAYAAN

اللهم اني أسألك الهدى والتقى والعفاف والغنى

Allahumma inni asalukal huda waltaqa wal a'fa wal ghina

"Ya Allah Ya Tuhanku,aku memohon kepadaMU pimpinan,pemeliharaan,perlindungan dan kecukupan"

AUKU Pindaan 2008: MPMN anggap lebih dahsyat daripada Pindaan 1975

Oleh: Hazman Abdullah*

Pewartaan Akta Universiti dan Kolej Universiti (AUKU) Pindaan 2008 pada 27 Januari lalu dilihat lebih dahsyat berbanding pindaan pada tahun 1975. Sebelum itu, akta ini telah diluluskan oleh Dewan Negara pada 18 Disember tahun lalu dan berkuatkuasa 30 hari serta merta mengikut perkara 66 Perlembagaan Persekutuan

AUKU telah digubal dan dikuatkuasakan pada 30 April 1971 dan ia telah dipinda sebanyak empat kali iaitu pada 24 September 1971, 13 Mei 1975, 20 Februari 1983 dan pindaan kali yang terakhir iaitu pada 1 Oktober 1996

” AUKU yang ada pada hari ini sebenarnya lebih mencengkam mahasiswa walaupun dimomokan dengan metafora yang amat indah bahawa ia telah membuka ruang kebebasan sepenuhnya kepada mahasiswa sedangkan hakikatnya, mahasiswa masih dizalimi dan dinafikan haknya,” kata Timbalan Pengerusi Majlis Perwakilan Mahasiswa Nasional (MPMN), Saudara Hishamuddin Che Ali.

“AUKU telah dipinda tetapi kebebasan asasi yang telah digariskan oleh Perlembagaan kita seperti kebebasan bepersatuan, kebebasan bersuara dan kebebasan berhimpun masih diikat oleh akta zalim ini? ”

Beliau menambah, bahawa dalam aspek kebebasan bersuara dan berhimpun mahasiswa, mahasiswa jelas disekat dan hanya boleh bersuara dalam bidang masing-masing dan juga seminar atau wacana yang diluluskan oleh menteri melalui peruntukkan Seksyen 15 (6) (b) AUKU (Pindaan) 2008

Ujarnya lagi bahawa pindaan AUKU pada hari sebenarnya akan membawa mahasiswa ke arah graduan separuh masak atau apa yang disebut dalam bahasa Inggeris, ‘half baked graduate’.

Mengulas isu kemasukan pemimpin parti politik ke dalam kampus, beliau menggesa agar ahli-ahli Dewan Rakyat memasukan peruntukkan tambahan ke dalam AUKU tentang isu kemasukan pemimpin politik sama ada kerajaan atau pembangkang ke dalam mana-mana ruang di kampus.

“Sememangnya selama ini mahasiswa disilap mata dengan momokan bahawa pemimpin kerajaan dan pembangkang akan mudah memasuki Univeriti tetapi ia hanyalah kata-kata menteri dan tidak digazetkan di dalam AUKU itu sendiri

Tambahnya lagi kekecohan di Universiti Malaya dan Universiti Kebangsaan Malaysia minggu lalu berkaitan jemputan wakil pembangkang dan kerajaan ke dalam perasmian mesyuarat Agung Tahunan dan forum tidak akan berlaku sekiranya mahasiswa diperjelaskan tentang isu ini.

“Mahasiswa perlu diberikan prosedur dan garis panduan jelas tentang perkara ini agar mereka dapat merasai kenikmatan pemikiran dan bukannya seperti katak di bawah tempurung yang hanya dengar daripada sebelah pihak sahaja”, tegasnya.

Dalam pada itu, beliau turut menyatakan kekesalan dengan tindakan UMNO menganak-tirikan mahasiswa dalam negara apabila membenarkan mahasiswa luar negara menganggotai parti politik melalui Kelab UMNO Luar Negara.

” Amat malang apabila mahasiswa Malaysia luar negara bebas menganggotai parti politik sedangkan mahasiswa dalam negara dicengkam dengan AUKU Pindaan 2008 yang hanya membenarkan mahasiswa untuk menganggotai parti politik melalui kebenaran Naib Canselor sepertimana peruntukkan Seksyen 15 (4) Akta AUKU ini dan bukannya secara automatik seperti rakyat Malaysia yang lain,”ujar beliau.

Beliau mendesak agar sekiranya inginkan mahasiswa Malaysia bebas daripada politik, maka Kelab UMNO Luar Negara wajar dibubarkan dan 63 Kelab Umno Luar Negara perlu dihalang keras daripada menyertai Perhimpunan Agong UMNO pada 25 hingga 28 Mac ini.

” Mahasiswa yang menganggotai Kelab UMNO Luar Negara perlu sedar bahawa mereka tertakluk pada undang-undang negara iaitu AUKU apabila berada di negara ini dan kehadiran mereka ke dalam aktiviti politik di Malaysia adalah bercanggahan dengan AUKU itu sendiri,” tegasnya.

Beliau turut membuat gesaan agar pindaan segara perlu dilakukan dalam peruntukan-peruntukan tertentu kerana beliau melihat bahawa AUKU Pindaan 2008 ini tidak lebih sekadar kosmetik yang jelas membunuh hak asasi mahasiswa dan melayan mahasiswa seperti warganegara kelas kedua.

” Tidak bolehkah mahasiswa dilayan seperti warganegara Malaysia lain dalam soal kebebasan menganggotai politik, kebebasan bersuara, hak untuk berpolitik dan juga hak untuk memilih persatuan yang digemarinya selari dengan Perlembagaan Persekutuan?” Soalnya.

Katanya lagi bahawa MPMN akan terus menyuarakan isu yang melibatkan kepentingan mahasiswa seluruhnya dan bukan kepentingan kelompok tertentu sahaja dalam isu-isu kemahasiswaan di peringkat nasional.

MPMN atau Majlis Perwakilan Mahasiswa Nasional telah ditubuhkan pada 14 Mac lalu yang keanggotaannya terdiri daripada ahli-ahli Majlis Perwakilan Pelajar (MPP) dari seluruh negara termasuk Sabah dan Sarawak.(dipetik daripada Mahasiswakini.com)